Mengapa GURU?
Menjadi seorang
guru, bukanlah cita-cita saya sejak kecil. Saya terbiasa pada hal-hal yang
sangat wah, memukau, dan membuat saya takjub. Namun, perjalanan hidup ini
memang sama sekali tidak bisa ditebak. Sepanjang kehidupan kita akan
dipertemukan oleh (katakanlah) bumbu-bumbu yang mampu membuat kita terperangah,
bahkan memberontak dalam hati, mempertanyakan keadilan dalam hidup ini.
Memang harus saya
akui, sejak kecil saya hidup serba dalam kecukupan, bermain didampingi
babysitter saat berumur balita hingga kanak-kanak, di saat bapak-ibu kami tidak
sedang berada dengan kita, saya berseta saudara-saudara selalu ditemani
babysitter. Akhirnya saya tumbuh menjadi anak yang manja dan egois, apapun yang
saya inginkan haruslah dikabulkan.
Meskipun demikian,
orang tua dengan segala "tipu daya"-nya berhasil meredam rengekkan
saya agar bisa tenang dan diam kembali. Sejak kecil ketika pertama kali
ditanya, "Apa cita-citamu?" dengan lantang dan tegas saya menjawab,
"PILOT!" Karena semasa itu saya senang sekali melihat pesawat
terbang, sering sekali diajak bermain ke daerah halim oleh papa saya sambil
menunjukkan kemegahan pesawat terbang dari luar pagar berduri. Saya terpesona,
rasanya keren sekali! Bisa mennunggangi burung baja yang ukurannya berkali-kali
lipat dari tubuh kecil saya saat itu. Kemudian, seperti biasanya, banyak orang
dewasa saat itu mencelotehkan hal-hal yang jelas buat saya bingung saat itu
ketika mendeklarasikan cita-cita perdana saya kala itu. "Wah, kalo mau
jadi pilot, gigimu harus rapih, masa ompong?", Kata mama saya saat itu (di
saat gigi susu saya mulai tanggal satu persatu), "Harus pinter matematika
loh! Gak boleh salah hitung pas lagi terbang!" Kata tanteku, "Harus
jago fisika juga!" Kata om ku... Dan masih banyak lagi, padahal saat itu
yang ada di benak saya adalah, jadi pilot itu KEREN! Sementara itu, di sudut
kerumunan ku pandang orang yang sering ajak saya bermain ke pinggir lapangan
terbang Halim Perdana Kusuma, dia Cuma senyum simpul, matanya menatap sendu
penuh harap, aah.. Teduh sekali wajah papaku.
Beranjak dari
kanak-kanak menuju anak-anak pada masa sekolah dasar, aku telah menggenggam
cita-cita yang berbeda lagi. Suatu hari, papaku mengajak ku rumah duka.
Sepanjang jalan dia bercerita tentang orang yang telah menjadi almarhum ini.
Dia adalah seorang teman dekat papaku, rawut wajahnya menggambarkan rasa
kesedihan mendalam, tapi lebih dalam lagi seperti ada rasa kekecewaan. Beliau
cerita, bahwa temannya ini adalah orang yang amat baik, seringkali almarhum
membantu papaku saat kesulitan, namun di saat almarhum sakit, papaku seakan
tidak berkutik dan sulit membantunya. Almarhum sakit keras semasa hidup
menjelang akhir hayatnya, entah sakit apa papaku tidak ingin menjelaskannya,
intinya papaku ingin sekali membantu namun butuh biaya yang cukup besar dalam
menangani penyakit ini. Di situ papaku berkata, "Andai saja saya jadi
dokter, tabib, atau apapun itu.. Saya pasti mau menyembuhkan dia!". Papaku
memang lulusan sekolah menengah (pertama), semasa kecil hidupnya keras, papanya
seorang pemabuk dan penjudi, ibunya seorang pribadi yang lemah lembut, saya
kira sifat ini benar-benar diturunkan kepada papa saya. Sejak lulus SMP papaku
merantau dari desa tulungagung, menuju kota di solo. Beruntung, dia hidup dan
diangkat sebagai seorang anak oleh sebuah keluarga dari etnis Tiong-Hoa yang
sangat baik. Dari sini saya punya motivasi besar, saya ingin menjadi DOKTER!
Saya mau buat papa saya bangga, kelak saya bisa menyembuhkan orang-orang dari
rasa sakit.
Begitu mudahnya
waktu mengalir, begitu mudahnya juga aku melompat dari satu cita-cita ke satu
cita-cita lainnya. Saya juga teringat ketika papaku memuji lukisan saya,
kemudian mendorong saya untuk mengembangkan bakat seni rupa saya, hingga
mendapatkan gelar juara tingkat Kabupaten dan beberapa gelar lainnya. Sejak
saat itu juga saya berikrar menjadi ARTIST! Pernah juga saya menonton sebuah
simulasi pemberangkatan ke ruang angkasa semasa SMP di Planetarium, sejak saat
itu saya ingin menjadi ASTRONOM! Haha.. Semuanya saya canangkan
"hanya" atas dasar kegaguman dan keinginan supaya "Saya jadi
keren"! Kekanakan sekali bukan?
Hingga waktu semakin
bergulir, semakin dekat kepada masa-masa dimana saya dan keluarga mengalami
masa-masa sulit untuk melangsungkan keutuhan keluarga. Masalah demi masalah
mulai muncul, pengaruh dari krisis moneter juga sedikit-kurangnya melemahkan
sendi-sendi ekonomi keluarga kami, tabungan terkuras, hutang membludak, bunga
mencekik. Pada tahun 1997 papaku terpaksa dipensiunkan lebih awal, dengan
pesangon yang sama dengan pesangon pensiun pada tahun yang semestinya. Artinya,
pemasukan keluarga kami akan terancam, padahal hutang piutang keluarga kami
belum masih menghantui. Akhirnya, semua beban ekonomi tertuju pada mama saya,
beruntung dia adalah seorang PNS. Jadi tidak begitu terpengaruh dengan kondisi
krisis moneter saat itu, selama mama saya bisa menjalankan tugas dengan
sebaik-baiknya. Atas segala kondisi yang mendesak tersebut, kami memutuskan
untuk menjual rumah perdana yang saya diami, tempat dimana saya lahir, Perum.
Jatimulya.
Saat itu saya masih
Sekolah Dasar kelas 4. Anda pasti tahu ke dilemaan anak-anak pada masa itu
harus berpindah tempat tinggal, ditambah dengan pola didikan saya yang begitu
dimanja dan selalu tercukupi sebelumnya. Sedih, berat, kesal, yaa.. Itu lah
saya, harus diakui. Namun papaku selalu menjajikan hal-hal yang bodoh, dia
bilang "Nanti di rumah sana, kita bakal punya kolam renang." Hahaha
:D dan lebih bodohnya lagi saya menjadi "anteng". Masa-masa transisi
perpindahan saya diwarnai hal-hal yang baru saya alami kala itu. Hal-hal baru
ini akan saya ceritakan di laun entry, di sini saya akan fokuskan pada
bagaimana saya bisa memilih atau lebih tepatnya Tuhan memilih saya memilih saya
menjadi GURU.
Singkat cerita saya
sudah SMP, di masa SMP saya dipenuhi masa-masa kebengalan, mulai dari bolos
sekolah, mencuri uang penjaga kantin, tidak mengerjakan PR, tawuran,
nimpuk-nimpukin kereta lewat, dan masih banyak lagi. Padahal, di depan orang
tua saya bisa dengan mudahnya menjadi anak alim dan penurut sehingga dengan
mudahnya mereka percaya apapun yang saya lakukan baik di dalam maupun di luar
rumah adalah kebaikan. Jangankan di depan orang tua, bahkan guru pun bisa
tertipu dengan kesantunan saya di depan mereka. Bahkan saya terpilih mewakili
sekolah menjadi murid teladan dan dilombakan se-Kabupaten. Yaa.. Bangga sih..
Tapi belakangan ini saya merasa hina dan keji banget.
Tapi.. Ya itulah
cara kerja Tuhan, dia bisa melakukan apapun yang Dia mau. Tuhan ternyata ingin
membuat saya belajar melalui papa saya dan kondisi keluarga saya yang
keutuhannya sedang diuji. Hutang piutang semakin banyak, mama saya menjadi
orang yang lupa diri karena mungkin berkuasa mengatur ekonomi keluarga sehingga
dengan sesuka hati membuat kartu kredit dan pinjaman kemana-mana. Dari hari ke
hari, makin banyak Dept Collector datang menghampiri rumah, orang-orang yang
berbeda menunjukkan bahwa mereka datang mewakili instansi yang berbeda pula.
Harus berapa kali saya dan adik2 diajar untuk berbohong, mengatakan kepada para
Dept Collector bahwa mama saya tidak sedang di rumah, padahal dia sedang
asik-asiknya mengangkangakan kaki di depan TV. Papa saya tidak berkutik, dia
tidak bisa berbuat banyak, uang pensiun dari pekerjaan pegawai swasta sama
sekali tidak membantu banyak, justru dia menggunakannya untuk membuka usaha
bengkel sepeda, air minuman kemasan galon, ikut MLM, dll. Papa saya merasa
meski dia tidak bisa banyak membantu, tapi setidaknya dia tidak mau banyak
bergantung, makanya dia membuka berbagai macam usaha kecil-kecilan.
Meskipun begitu,
respon mamaku semakin lama, semakin tidak menyenangkan di rumah. Keuangan
keluarga kami semakin tidak terstruktur, gaji bulanan mama saya begitu cepatnya
ludess dalam hitungan hari di awal bulan, sehingga tak jarang tiap hari-hari
menjelang akhir bulan mama saya justru meminta ongkos jalan berangkat-pulang
kerja pada suaminya yang terpaut umur 15 tahun itu. Kakak saya juga merasa
telah menjadi beban keluarga, karena sulit mengikuti pelajaran di sekolah
sehiingga di kelas 3 SMK dia lebih memilih tidak melanjutkan sekolah. Dia tidak
mau membebani keluarga, dia malah ingin biar biaya sekolah dilimpahkan pada
saya dan adik perempuan saya, puji.
Saat itu saya sudah
SMA, masa tenggang pembayaran hutang di Bank Permata semakin mengancam ekonomi
keluarga kami. Mereka memegang kendali atas surat-surat rumah kami, karna tanpa
sepengetahuan kami, mama telah meminjam uang dengan jumlah yang cukup besar
dengan surat-surat rumah sebagai jaminannya. Benar-benar membuat papa saya
marah, dan saat itulah pecah amarahnya, suasana mencekam, papa saya mencekik
mama saya sambil mengepalkan tangannya seakan ingin meninju wajah mama saya.
Namun raut wajah mama, sama sekali merasa tidak bersalah, entah setan apa yang
merasukinya, malah dia menantang "Pukul, pukul aja gua! Emang lo bisa apa?
Gue yang nanggung semua anak-anak!" Ah, saya benci untuk mengingat-ingat
ini, saya masih polos saat itu Cuma bisa menahan badan papaku, dan bembisikkan
ke telinganya, "Pah.. Ingat Tuhan Yesus." Entah, kenapa saya bisa
berkata-kata seperti itu. Dan papa saya melemaskan cengkramannya di leher mama
saya, dia merunduk dan pergi keluar rumah entah kemana.
Singkat cerita, kami
harus terjual dengan harga yang sangat menyakitkan keluarga kami, dari yang
kami keluarkan biaya 200an juta, hanya terjual 60an juta saja hanya untuk
melunaskan hutang-hutang. Uang sisa hanya dapat kami gunakan untuk mencari
kontrakkan per tahun, mulai sejak itu kami hidup "nomaden", mulai
dari kontrakkan di samping kandang
kambing sampai tidak memiliki plafon di atap (langsung bertatapan dengan
genting) pernah kami singgahi. Bayangkan, betapa kami diproses, mulai sejak
saat itu saya heran, mengapa saya harus mengalami itu semua?
Sejak saat itu, saya
menjadi pribadi yang ambisius, saya harus sekolah dengan rajin untuk bisa
kuliah dan mendapatkan beasiswa, supaya tidak membebani orang tua, cepat lulus
dan membantunya. Namun, dalam memilih jurusan saya masih bingung. Papa adalah
orang yang paling banyak mempengaruhi saya, dia sama sekali memberikan
doktrin-doktrin verbal, dia slalu menanyakan apa rencana saya, apa mau saya,
dan apa yang bisa dia bantu. Sesederhana itu. Dan, perhatian dan perlakuannya
kepada kami semua anak-anaknya begitu teramat sangat manis, pernah suatu saat
aku pernah tertinggal "flute recorder", saya panik karena hari itu
ada ujian seni budaya (musik). Saya mencari telepon ke ruang guru, dan ketika
saya masuk ke ruang tunggu, saya sudah menemukan papa saya sedang duduk dan
berbicara dengan kepala sekolah. Ah.. Puji Tuhan.. Betapa bahagianya, namun
tidak sampai di situ, papa saya ternyata sedang merencanakan
"sesuatu" dengan kepala sekolah. "Ah.. Ini anak saya, bu."
Kata papaku. "Oh.. Ragil ini, ya saya tau pak.. Anak ini memang cerdas
(ehem)." dan saya tersipu malu saat itu.
Menjelang akhir SMA,
kelas 3. Saya mulai serius menata masa depan, menentukan apa yang menjadi
pilihan profesi saya kelak. Hingga suatu saat, ada beberapa teman-teman SMA
yang kesulitan belajar Matematika mengajak saya untuk mengerjakan PR bersama,
kami memilih ruang kelas yang tidak terpakai kala itu. Padahal, saya merasa
tidak terlalu pintar untuk matematik bagian kalkulus (integral dan
diferensial), tapi.. Entah kenapa saya merasa saya mau membantu teman-teman
saya saat itu. Di mulai dari 2 orang, besok 4 orang, besoknya lagi sampai 10
orang. Setia sepulang sekolah saya berdiskusi membahas hal-hal yang telah
dipelajari di sekolah dengan memanfaatkan whiteboard yang menganggur, saya
menjelaskan layaknya seorang guru, dan teman-temanku adalah muridnya. Sebuah
suasana yang membuat saya bersukacita. Bukan karena saya merasa lebih dari
mereka, teman-teman saya, tapi jauh di dalam hati saya, saya hanya ingin
teman-teman bisa paham seperti saya. Kadang-kadang di sela-sela diskusi, kami
kerapkali menemukan metode baru yang tak sempat guru kami ajarkan, haha..
Memang teman-temanku saat itu adalah manusia-manusia super kreatif.
Tiba-tiba, suatu
saat saya dipanggil oleh wali kelas saya, Ibu Noviantika (kami menyebutnya
bunda). Haha.. Singkat cerita beliau memohon pada saya untuk menggantikanya
mengajar di kelas saat dia penataran di Bandung. Terus teran saya terkejut,
jelas-jelas ini sebuah tugas yang sangat riskan. Namun beliau berusaha
meyakinkan saya, beliau pernah melihat saya mengajar di ruang kelas sepulang
sekolah, beliau juga memperhatikan perkembangan nilai-nilai teman-teman saya
sebelum hingga setelah saya membantu mereka. Saya jelas menolak, karena merasa
tidak layak menggantikan posisi seperti itu, namun Bunda bersikeras dan
meyakinkan saya. Dan akhirnya, saya mau mencobanya. Beberapa materi saya hafal
dan pelajari di rumah supaya tidak memberikan miskonsepsi pada teman-teman
sekelas. Namun, yang jadi bahan perenungan saya adalah, mengapa saya bisa
sampai dipercayai sejauh ini? Karena saya merasa sama sekali tidak berbuat
banyak, saya hanya ingin membantu, membantu, dan membantu, itu saja.
Hari dimana saya
mengajar sebagai Asgur (asisten guru) pun tiba, ada teman2 yang fokus,
antusias, tapi ada juga beberapa yang cuek, hahaha.. Memang jadi guru itu
warna-warni yang kita lihat. Sangat beda sekali ketika saya menghadapi hanya 10
teman di depan yang jelas-jelas punya motivasi tinggi untuk memahami materi.
Namun saya lanjut saya.. Hingga akhirnya, ulangan harian pun tiba, hasilnya
diberikan 2 hari setelahnya, banyak teman-temanku yang berterimakasih pada
saya, mereka mendapatkan nilai sempurna. Betapa bahagianya saya mendengar
kata-kata ini; "Gil, seumur-umur gue gak pernah dapat nilai bagus, tapi
ini dapet 100, thank you banget!" Bisa dibayangkan, berbunga-bunganya hati
saya saat itu. Sukacita itu, benar-benar saya dapatkan.
Kembali lagi saya
berdiskusi dengan Bunda. Seperti umumnya, dia mengucapkan terimakasih atas
ketersediaan saya membantunya. Yaa.. Meski tidak semuanya dapat nilai bagus di
kelas, tapi rata-rata kelas cukup naik signifikan karena beberapa teman saya
banyak dapat nilai sempurna. Yang biasanya saya saja dan 1 atau 2 anak yang
dapat 100, ini menjadi hampir separuhnya. Hahaha.. Sama sekali gak merasa rugi,
malah bahagia sekali saya.
Saat itulah, bunda
menyarankan saya untuk menjadi seorang GURU. Beliau percaya, saya akan menjadi
GURU yang hebat, guru yang mampu mengubah murid-muridnya yang awalnya tidak
mampu, menjadi mampu. Sama sekali tak terpikirkan buat saya untuk menjadi GURU.
Namun, sejak itu saya menjadi suka membayang2kan kalau aku menjadi guru kelak.
Tetapi, pergumulan
ini tidak selalu mudah. Banyak anggota keluarga yang menganggap remeh dan receh
profesi guru, bahkan dari teman saya sendiri pun juga ada (padahal dia sendiri
yang merasakan dampak mendapatkan nilai 100). Hidup seperti "Oemar Bakrie",
seperti itulah bayangan mereka menjadi guru. Tapi, saya sama sekali memikirkan
hal itu, yang aku pikirkan adalah bagaimana saya mendapatkan SUKACITA itu lagi,
rasa dimana saya mampu membantu mereka yang kesulitan memahami pelajaran,
menjadi mampu dan bisa, bahkan mendapatkan nilai yang memuaskan. Hanya itu.
Akhirnya, saya
ceritakan semua ini kepada papa saya. Dan, papa saya Cuma bisa senyum simpul,
sambil menepuk dan mengelus bahu saya. Dia Cuma bilang, "Saya bangga sama
kamu, nang!" Just it! Akward moment! Dari sekian banyak orang aku ajak
curhat dan mencari keputusan yang tepat saat aku memilih jurusan untuk kuliah
nanti, dari komentar soal oemar bakrie, sampe gaji guru yang gak sebarapa, atau
berusaha mengejar menjadi PNS, dan macam-macam, papa saya Cuma berkata itu..
Tapi, entah kenapa terasa hangat di dada.. Kata-katanya sangat menyihir,
sederhana, namun memotivasi, apalagi melihat wajahnya yang teduh itu.. Umur
60an, kerut yang menandakan banyaknya pengalaman hidup yang ia alami, berpadu
dalam jati diri seorang Ayah sederhana dan penuh kasih.
Sejak saat itulah,
saya makin menguatkan diri saya menjadi seorang guru. Saya mulai pelajari
universitas-universitas yang memungkinkan saya dapatkan kursinya. Saya tidak
peduli apa kata mereka, yang saya pikirkan saat itu adalah, saya ingin buat
papa saya bahagia dan bangga lagi, lagi, dan lagi.
Dan saat ini, saya
telah menjadi seorang guru. Banyak hal sebenarnya yang bisa saya tulis mengenai
masa-masa saya kuliah, namun saya ingin menulisnya pada lain waktu. Banyak juga
yang saya gumuli selama menjadi guru, fenomena-fenomena yang tampak di depan
mata saya selalu menjadi bahan perenungan buat saya. Saya selalu heran ketika
ada seorang guru yang melarang anak didiknya merokok, sementara dia sendiri
meroki, melarang anak didiknya menonton film blue, tapi dia sendiri menonton,
malarang ini-itu namun dia sendiri malah melakukannya. Saya merasa menjadi
seorang guru bukan menjadi pribadi yang penitah-nitah, tapi juga menjadi
seorang teladan. Seperti itulah pengalaman dan kisah saya mengapa saya bisa
sejauh ini, saya yakin ini bukanlah sebuah kebetulan, tapi karena Kasih Karunia
Tuhan yang hadir melalui orang-orang yang ada di sepanjang perjalanan hidup
saya. Tuhan bekerja dalam segala sesuatu demi kemuliaanNya.
Thanks Lord, I'm so
blessed!
- Terimakasih untuk PAPA, tulisan ini saya dedikasikan untuk anda.
- Terimakasih untuk Bunda, yang berhasil membukakan pikiran saya.
- Terimakasih pada seluruh guru, dan teman2 yang mensuport saya.
information png from pngtree.com
BalasHapus