Kembalian

Minggu, 5 oktober 2013

Ini adalah hari dimana saya memulai kebiasaan semasa kecil, namun sempat hilang beberapa dekade terakhir, membuat buku harian. Bedanya, kalau dulu saya buat pada sebuah buku tulis, tapi sekarang jauh lebih muktahir bro, pake blog! haha.. Secara dengan menggunakan blog, cerita yang telah kita posting tidak akan hilang dan yang paling membuat senang kalo cerita ini dibaca oleh oranglain dan dapat "mempengaruhinya". Ingat! mempengaruhinya.. pengaruh yang dialami manusia beragam, ada yang dari segi fisis maupun psikologis. Umumnya, pengaruh pembaca belakangan ini terhadap sebuah cerita adalah psikologis. Psikologis pun beragam, bisa marah, sedih, terinspirasi, terobsesi, gila, stress, atau bahkan depresi. Apapun yang akan diceritakan, yang penting saya akan berusaha membuat tulisan ini semenarik mungkin yang saya bisa.

Seperti hari-hari sebelumnya, sebagai seorang pemuda yang dilahirkan tanpa (belum tepatnya) seorang pendamping, saya bangun tidak lebih pagi dari biasanya (06.00) lalu main game, makan, dan tidur lagi. Kalau memang jam kerja saya (mengajar) adalah pagi hari, masuk pagi, kalo siang ya bangun siang saja.. hehe. Bicara soal pacar, saya teringat ketika masa-masa saya masih belia, masa dimana ketika pacaran sering membuat nama-nama yang niatnya sih biar lucu-lucuan, tetapi tidak demikian bagi oranglain saat itu dan diri saya yang sekarang. Beberapa tahun belakangan, terhitung sekitar 3,5 tahun saya menjomblo saya menyadari ternyata saya menjalani dunia asmara yang penuh fantasi, slalu kaya akan imajinasi, kejutan dan ekspresi. Saya tergolong pria yang ekspresif, suka lebay yang tidak karuan, namun ada saatnya saya yang katanya ketika diam sungguh sangat misterius dan sulit ditebak. Saya sudah berpacaran terhitung 5 kali. Terkesan laku sih, tapi anda belum tahu cerita tepatnya.. Pacaran pertama kali adalah ketika saya kelas 6 SD, ketika badan masih bau kencur dan tangan yang slalu mengusap ingus. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama saat itu, dan pada saat itu juga untuk pertama kalinya saya jatuh ke dalam parit hitam penuh lumpur dan bau saat menaiki sepeda. Saya terpukau pada parasnya, saya tatap dia dan dia menatap saya, saya mengayuh sepeda di atas aspal bagaikan di atas awan sampai-sampai tidak peduli arah stang ke kiri atau ke kanan. Bagi saya, melihatnya bagaikan sudah menemukan jalan yang lurus. Namanya adalah Putri, pakaian ala bidadari dikenakannya saat itu dan sedang menaiki ayunan, begitu anggun. Senyumnya sangat manis, dan kulitnya putih mulus. Hanya saat melihat dan di dekat dia jantung ini berdegup kencang. Dia tinggal di perumahan seberang, dia bermain di situ hanya sekadar berkunjung ke rumah saudaranya, ialah tetangga saya. Mulai sejak itu saya slalu dicomblangin oleh tetangga saya ini, Andi namanya. Saat jadiannya pun sangat lucu, dia menembak saya saat saya ingin menyatakan cinta padanya. Berawal dari telepon, dia menelpon tengah hari ke telepon rumah saya, saat itu yang mengangkat adalah adik saya peremuan (Iik), langsung saja telepon diserahterimakan pada saya. Saat itu, terdengar suara merdu nan lembut dari speaker telepon.. tanpa penjelasan detail dan pemikiran yang dalam saya sudah tahu, dia adalah putri. Tapi, memang dasarnya cewek dia suka iseng main tebak-tebakan, saya disuruh menebak dia siapa? Saya ladeni saja, dan pura-pura menebak cewek yang asal-asalan biar dia cemburu dan akhirnya ketahuan. Terang saja, saya sebut saja namanya santi, susi, tina, rani, klara, dan seterusnya.. hingga akhirnya dia bertanya, "Mas dimas, emang yang tadi disebut siapa sih? pacar mas? apa mereka suka nelpon ke sini? masa nama aku gak disebut-sebut sih.." Setelah berpura-pura berpikir panjang saya langsung sebut saja namanya dengan lantang, putri! Kemudian kami mengobrol banyak, tak terasa sudah hampir satu jam. Entah kenapa, meski paras saya tidak setaraf dengannya tapi ketika kami mengobrol dari hal-hal yang disukai sampai tidak, kami seolah merasa sudah sangat dekat. Meski ketika bertemu saya lebih terlihat malu-malu ketimbang dia, dan lebih suka diam dibandung dia. Di akhir pembicaraan, dia ingin menutup telepon, kami saling ber-say bye-bye.. tapi di akhir pembicaraan dia bilang, "Aku sayang, aku suka sama mas dimas.. dadah..." Lalu telepon pun putus.. Ketahuilah, saat dia mau memutuskan teleponnya saya mau menyatakan isi hati waktu itu, tapi malah keduluan dia. Tapi bedanya saya butuh jawaban, apa dia juga sayang atau tidak. Tapi malah sebaliknya, dia yang menyatakan tetapi tidak butuh jawaban, berarti dia sudah yakin bahwa saya akan menjawab YA. Beberapa hari kemudian saya menjadi lebih sering bermain ke rumahnya, menggunakan sepeda sederhana yang papa saya rakit sendiri. Meski rumah kami cukup jauh, setiap sore selalu saya jalani. Saya datang ke rumahnya pun backstreet dari orang tuanya, saya dipaksa mengaku teman sekolahnya. Begitulah hari demi hari, setiap kita bertemu justu tidak menunjukkan bahwa kami berpacaran, kami hanya sebatas saling suka, yang namanya pegang-pegangan tangan, pelukan, atau bahkan kissing pun adalah hal tabu bagi kita. Omongan kita berdua sudah seperti omongan anak remaja SMP atau SMA, sangat nyambung. Kita lebih suka mengkhayal, membayangkan kalo nanti sudah dewasa akan menjadi apa, tinggal dimana, dan mau punya apa saja, kami membicarakan cita-cita kami, hobi kami, dan beberapa orang di sekitar kami. Dia bercita-cita ingin menjadi artis dan penyanyi, dia sangat menyukai boneka dan uniknya dia menyukai lagu dangdut. Bagi dia lagu dangdut punya lantunan sendiri yang dapat menggerakkan hati dan raga bersamaan, punya lirik yang indah dibanding lagu lain. Tetapi tidak lama, hubungan kami tercium ayah dan ibunya. Kami jadi lebih jarang bertemu dan komunikasi, kalo saya telepon slalu dilarang ibunya, ketika saya ke rumahnya slalu bilang putrinya tidak ada. Sesekalinya kita bertemu, bahkan setelah 1 bulan tidak bertemu, itu pun harus diam-diam. Kami harus janjian di sebua tempat terlebih dahulu, dan itu pun tidak lama, hanya itungan menit. Terakhir bertemu, dia bertanya, "Mas, kalo kita gak bisa ketemu-ketemu lagi gimana? Aku takut." Sebagai seorang lelaki tapi masih bocah saya tidak bisa banyak bicara, saya cuma bisa mengusap pundaknya dan saat itu juga dia menangis dan pergi gitu saja pulang ke rumahnya. Otomatis setelah hari itu saya kehilangan kontak dengannya, saya telepon nomernya sudah tidak aktif, saya kerumahnya, tetapi rumahnya sangat sepi. Dan satu hal yang menyayat hati adalah ketika saya berusaha bertanya pada tetangganya, kalo keluarga putri terakhir mengabari akan pulang kampung selama seminggu, tetapi seminggu bahkan sebulan sudah lewat saya kembali datang ke rumah tetangganya, ternyata kabar terakhir mereka sudah pindah entah kemana.

Itulah cerita cinta pertama saya, dia pergi tanpa sepatah kata, tetapi hanya dengan pertanyaan "kalo kita gak bisa ketemu-ketemu lagi gimana?". Itulah sedikit cerita flashback dari saya, tetapi hari ini saya mau sedikit melacur (melakukan curhat) di sini. Tepat jam 19.00 WIB saya pulang dari gereja setelah mengikuti misa rutin hari minggu sore. Saya beribadah ditemani kawan yang memiliki wajah mesum, Yohanes Fajar. Sepulang gereja kami sepakat mau makan bersama di jalan. Tetapi saya teringat dompet saya sudah kosong, saatnya tarik uang ke ATM. Saya tarik tidak banyak kok, cuma 1.000.000 yang nolnya kelebihan satu. Setelah itu saya mau memecahkan uang itu dan membelinya sebuah susu kotak dan cemilan dengan total 7.500, kembaliannya pun langsung saya terima dengan keyakinan bahwa "penjual pasti sudah jujur dan tidak salah memberikan kembaliannya". Tanpa perlu menghitung uang kembaliannya, saya ambil uang recehnya yang 2.500 masukan ke kantong. dan uang besar sisanya di dalam dompet. Setelah itu baru makan nasi goreng bersama fajar dan dibayar olehnya. Selang sejam kemudian, saya sadar di sebuah supermarket ketika ingin membeli minuman cola. Saya lihat di dalam dompet ketika ingin membayar hanya ada uang 40.000, saya yakin dengan penuh sampai tumpeh-tumpeh, kalo tukang jajanan tadi kurang memberikan kembalian 50.000. Ketika saya kembali, dan meminta hak saya itu, ternyata dia juga kekeuh merasa telah memberikan kembalian yang benar. Kami sempat beradu mulut sampai ada beberapa warga di sekitar menyudahi adu silat lidah kami.. Pelajaran hari ini adalah sekecil apapun keteledoran ternyata mempu menyulut masalah yang besar, di sini saya akhirnya harus mengalah dan menyadari bahwa harus lebih jeli menghitung uang kembalian, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

Saya kira untuk hari ini disudahi sampai sini saja, next time saya akan menceritakan pengalaman pacaran saya yang kedua dan masih banyak hal lagi yang dapat dijadikan pelajaran dan semoga anda dapat terhibur.. salam mendoan!

Komentar

Posting Komentar

terimakasih terlah berkontribusi

Postingan populer dari blog ini

BLENDED LEARNING?!

Belajar dari COVID-19 di Penghujung 2020