BLENDED LEARNING?!

     Pembelajaran Tatap Muka sudah berjalan sekitar dua minggu sejak di postnya konten ini. Tapi, apakah semuanya berjalan sesuai dengan harapan? Berdasarkan data kemdikbud, tak lama setelah PTM berlangsung sudah ada ribuan cluster sekolah bermunculan di Indonesia.



BAB I

PENDAHULUAN    

Apa yang menyebabkan ini terjadi? entahlah, kemungkinan besar ya karena pelanggaran protokol kesehatan. Padahal, sebelum PTM berlangsung KPAI sudah mengatakan hampir 80% sekolah di Indonesia siap melaksanakan PTM. Tapi ternyata, dari angka itu justru ada ribuan sekolah yang terjangkit COVID-19.

    Meskipun demikian, poin yang ingin saya bahas adalah bagaimana penerapan PTM yang semestinya? karena, kunci dari keberhasilan pelaksanaan PTM adalah bagaimana sekolah memanajemen sistem ketika belajar secara tatap muka sekaligus dengan sistem pembelajaran secara online. Karena, dalam praktiknya justru hampir sebagian besar orang tua belum mengizinkan anaknya untuk belajar di sekolah. Impactnya adalah, guru dituntut untuk benar-benar mempersiapkan dan merancang pembelajaran yang mampu mengakomodasi peserta didik yang belajar di sekolah, sekaligus yang di rumah. Selama proses pelatihan persiapan PTM, para guru dan kepala sekolah selalu "digenjot" oleh pemerintah untuk bisa mempraktikan model pembelajaran yang bernama "BLENDED LEARNING". Apa itu?


BAB II

CARUT MARUT BLENDED LEARNING

Yang paling umum ditanyakan dari model Blended Learning pasti adalah "Apa yang dicampurkan/di-Blended-kan??" Tidak ada penjelasan dan definisi pasti dari blended learning. Sejauh yang saya pahami saat mengikuti program persiapan PTM (PTKMB dan ISB dari Diknas x Sekolahmu), Blended Learning berusaha mengkombinasikan pembelajaran secara sinkronus dan asinkronus. Tetapi, jika saya merujuk pada beberapa artikel dari luar, justru terjadi berbagai macam persepsi bahkan perdebatan. Ada yang bilang kombinasi antara offline dan online, kombinasi antara sinkron dan asinkron, kombinasi belajar mandiri dan terbimbinig, serta kombinasi antara media komputer dengan tatap muka. (The Handbook of Blended Learning: Global Perspectives, Local Designs By Curtis J. Bonk, Charles R. Graham)

Jujur saja, selama saya sekitar 1 minggu melaksanakan Blended Learning, kok malah justru merasa pembelajaran online jauh lebih efektif dan efisien. Mengapa? karena yang saya alami, ketika mengajar di waktu bersamaan (sinkronus) kepada peserta didik yang di sekolah sekaligus di rumah, itu harus memecah perhatian dan konsentrasi sehingga dampaknya ada anak yang kurang terperhatikan, baik yang belajar dari rumah (menggunakan zoom cloud), dan dari sekolah. Sangat sulit.

Akan tetapi, tidak ada pilihan. Karena jika memilih kembali pembelajaran online/PJJ, konsekuensi yang harus didapat adalah kognitif loss yang dialami peserta didik kita. Maka Blended Learning, memang satu-satunya solusi ditengah ketidakpastian yang kita dapat mengenai konsep Blended Learning itu sendiri. Maka dari itu, kita perlu membuat formula kita sendiri terkait hal ini.

Pernah saya melihat satu video seorang guru sambil mengajar dan menulis di papan tulis, sambil memegang handhone yang diarahkan ke papan tulis agar peserta didik yang belajar dari rumah dapat menyimak melalui aplikasi google meet. Entah kenapa, saya miris melihatnya. Karena, memang teknologi digunakan saat itu, tapi tidak mampu mengoptimasi esensi dari pembelajaran itu sendiri. Teknologi harusnya mampu meringankan beban pekerjaan sekaligus mempertahankan efektivitas dan efisiensi atau malah bisa meningkatkannya. Jika memang Blended Learning demikian, apakah tidak lebih baik belajar online saja semuanya? Apakah jika orang tua tahu, mereka tidak berpikir lebih baik membuat anaknya belajar dari rumah saja? jadi bisa saya katakan, justru ini adalah suatu kemunduran dari sisi tujuan pembelajaran yang harus dicapai.

Sebenarnya pemerintah sudah memberikan Petunjuk Teknis yang cukup baik sih menurut saya. Tapi, karena ujung-ujungnya keputusan menyekolahkan anak kembali kepada orang tua siswa, hal ini lah yang akan menjadi "Pekerjaan Rumah" bagi para guru. Maksud saya begini, bayangkan jika sebelum ada pandemi dalam satu kelas/rombel ada sekitar 40 siswa. Nah, berdasarkan juknis kemendikbud, satu kelas hanya diperbolehkan maksimal 18 siswa. Artinya, jika guru ingin mengajar dan masuk ke kelas tersebut, guru tersebut harus mampu memfasilitasi 2 kelompok siswa, yang di rumah sekaligus di sekolah. Jika guru tersebut ingin melaksanakan pembelajaran sinkron, artinya perlu ada perangkat-perangkat tambahan yang harus dipersiapkan, misalnya speaker, microphone, komputer, aplikasi meet dan lain-lain. Pertanyaanya, apakah semua sekolah di Indonesia sanggup menyediakan itu semua di setiap rombel?

klik di sini: Link Juknis PTM

Itulah sedikit gambaran dan persoalan dari blended learning, mungkin memang prokes berjalan dengan baik, tapi apakah efektivitas pembelajarannya selaras dengan itu? harusnya, yang ditekankan pembelajaran tatap muka adalah mengoptimalkan dari apa yang tidak bisa didapatkan dari pembelajaran jarak jauh (online). Ditambah lagi, siswa PTM disekolah dibatasi waktunya hanya 2 jam. Misalnya, aktivitas kolaborasi dengan teman, sehingga ada interaksi langsung (namun harus tetap jaga jarak) dengan teman-temannya, ada diskusi, atau semacamnya. Atau interaksi langsung dengan guru, seperti tanya jawab dan diskusi dengan guru yang sifatnya adalah Problem Based. Jadi, sudah tidak relevan lagi ketika PTM kita mengajarkan teori-teori dasarnya dulu, hanya membuang-buang waktu dan tidak worth-it dengan "pengorbanan" anak didik kita yang mau belajar datang ke sekolah.

BAB III
BLENDED LEARNING CORE
Yang saya alami, inti dari blended learning adalah pada bagaimana kita melakukan persiapan, yaitu menjadwalkan aktivitas, merancang pembelajaran, dan merancang asesmen. Mau tidak mau, suka tidak suka, yaa kita harus merancang sedemikian rupa dengan memanfaatkan konsep dari pembelajaran sinkron dan asinkron itu tadi. Itulah kuncinya.

Jadi, di sini saya akan memperkenalkan turunan dari Blended Learning itu sendiri, yaitu adalah Flipped Classroom. Mudahnya, kalo dulu jauh sebelum pandemi polanya adalah belajar di kelas - beri tugas (PR) - penilaian, sekarang dibalik, Flipped Classroom berpola memberikan tugas memahami (berupa materi video/artikel/digital book secara asinkron)  - buat list pertanyaan - Diskusi dengan guru/teman (sinkronus) - penilaian. Nah, sehingga kita bisa mensetting bahwa, saat sinkronus (diskusi) siswa yang PTM bisa mendapatkan value yang lebih karena dapat berinteraksi langsung dengan guru atau teman-teman di kelas saat diskusi membahas dari apa yang telah mereka pelajari secara mendiri ketika PJJ.

Konsekuensinya, di sini guru harus memberikan instruksi yang jelas saat memberikan bahan asinkron dan sudah mempersiapkan feedback ketika pembelajaran sinkron, agar semua yang telah anak didik dipelajari di rumah dapat terolah dengan baik ketika sinkron di kelas.

BAB IV
BLENDED LEARNING VERSI KANG GURU IPA
Nah, dari semua yang telah saya pelajari. Mungkin blended learning versi saya bisa membantu teman-teman yang kesulitan menerapkan pembelajaran blended learning juga. Terlebih buat teman-teman pendidik yang masih belum memiliki perangkat teknologi yang mumpuni di sekolah. Tidak masalah, ini bisa dilaksanakan tanpa harus membebani siswa maupun guru.
  1. Pertama, kita harus menyusun Profil Peserta Didik kita terlebih dahulu. Profil ini harus memberikan gambaran dari masing-masing individu anak didik kita terkait dengan: (Bisa menambahkan atau mengurangi beberapa poin di atas sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing)
    • kemampuan kognitif
    • kemampuan menguasai teknologi penunjang pembelajaran (hardware maupun software)
    • kepemilikan perangkat teknologi (smartphone/laptop, apakah digunakan bersama dengan anggota lain, atau justru belum memiliki, maka sekolah harus meminjamkannya)
    • keberadaan orang tua ketika belajar dari rumah
    • ketuntasan vaksinasi
    • pengetahuan protokol kesehatan
    • kemampuan bersosialisasi (baik virtual maupun tidak)
    • dll
    • Contoh:
  2. Kedua, Rancang Jadwal. Minimal, tiap bulan. Kita bisa memanfaatkan Google Classroom yang sudah terintegrasi dengan Google Calendar. Nah, disitu kita jadwalkan PTM untuk tiap rombel 1 sampai 2 kali /minggu sesuai dengan juknis. Sisanya adalah PJJ. Selama PJJ kita bisa masukkan jadwal model asinkronus (memberikan materi video/bacaan) yang harus dikonfirmasi dengan siswa membuat list pertanyaan terkait materi supaya dapat dibahas saat diskusi ataupun juga sinkronus full online via zoom/Gmeet. Jadi ketika PTM fokusnya hanya pada kegiatan diskusi dan pemecahan masalah terkait pertanyaan-pertanyaan yang dilontrkan anak didik kita.
  3. Ketiga, ketika pelaksanaan . Bagi menjadi 2 sesi waktu.
    • Sesi 1 (sekitar 15 menit) - yang PTM dibriefing oleh Guru di kelas. Inti dari briefing di sini, guru fokus memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum yang diajuakan oleh teman-teman mereka. Sedangkan yang di rumah diberikan tugas untuk kembali menonton video materi atau mencoba mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berhasil guru rangkum secara asinkron yang bisa didapat dari berbagai sumber.
    • Sesi 2 (siswa waktu yang ada) - Semua siswa yang PTM mebuat grup chat (WA/telegram) atau bisa juga membuat link google meet untuk bisa berdiskusi dengan teman-teman yang ada di rumah. Di sinilah guru mulai sinkronus. Teman-temannya yang belajar dari rumah bisa memilih bebas ingin berdiskusi dengan teman yang PTM via link Google Meet yang telah mereka buat masing-masing, atau juga guru sendiri yang mengelompokkannya. Nah, ketika sedang berdiskusi menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan berbasis masalah, barulah guru bisa berkeliling mengamati dinamika yang terjadi, atau bisa juga langsu join via google meetnya/grup chatnya. Lakukan ini hingga penutup, lalu minta 1 - 3 siswa untuk membuat kesimpulannya.
GIMANA?? gak perlu kamera eksternal, microphone, tripod, pen tablet, speaker, dan tetekbengek lainnya bukan?? :DD

BAB V
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
    Kelebihan dari Blended Learning versi saya ini memang tidak menuntut banyak perangkat semacam studio kecil begitu, tetapi apabila kegiatan ini tidak diiringi dengan kesadaran peserta didik dalam belajar mandiri, maka diskusi akan mati, dan tujuan pembelajaran tidak tercapai.
    Kadang saya masih suka mendengar cibiran dari anak-anak bahkan orang tua, apabila saya mendesain pembelajaran sedemikian rupa sehingga saya menjadi jarang memberikan materi sebagaimana mestinya mengajar di papan tulis, ceramah, lalu anak hanya menonton saja. Bagi mereka, kalau saya tidak melakukan demikian, artinya saya tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan benar. Yaa.. hahaha, saya cuma bisa ketawa saja. Kadang manusia bukannya sulit berubah untuk maju, tapi malah lebih menyukai kemunduran. Padahal, segala hal yang saya persiapkan untuk mendesain pemebelajaran yang efektif juga efisien itu perlu perhatian, waktu, dan tenaga juga.

BAB VI
SARAN DIKIT
    Sekali lagi, kunci dari Blended Learning adalah kesadaran bersama akan pentingnya esensi dari suatu kegiatan belajar. Baik guru, kepsek, siswa, dan orang tua harus menyadarinya. Pendidikan sekarang tidak bisa kembali ke masa-masa dulu, tidak bisa basicnya ke rutinitas yang sifatnya repititif, tapi harus pada develop, berkembang, bagaimana semakin hari kita harus bisa menyesuaikan diri kita dengan perkembangan teknologi juga ilmu pengetahuan juga. Jadi, saran saya semua ini harus dimulai dari dibangunnya kesadaran dari anak didik kita, jangan sampai mereka lalai atau justru tidak melaksanakan rangkaian Flipped Learning dengan semestinya. Karena itu tidak hanya memengaruhi ke dirinya sendiri, tapi juga ke teman-teman bahkan kelas.

Oke sekian konten kang guru kali ini. Mohon maaf apabila ada salah kata. Tetap semangat para guru penggerak! tetap perjuangkan merdeka belajar! dan sampai jumpa....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembalian

Belajar dari COVID-19 di Penghujung 2020