Gadget Oh Gadget

Suatu hari saya harus kembali ke kampung halaman, meski tidak semua orang setuju dengan pernyataan "kampung halaman" untuk sebuah tempat yang bernama kota bekasi. Awal tahun 2015 saya pulang ke rumah untuk menunaikan tugas negara; bayar pajak motor. Waktu itu hari jumat, karena sampai di rumah sudah larut malam, maka saya coba datang ke samsat hari esok hari.

Selama beberapa hari di kota bekasi, ternyata sudah banyak sekali perubahan yang terjadi relatif saat waktu saya tinggal di sana saat masa sekolah. Saudara, jika dulu saya diminta orang tua barang membeli rokok di sebuah warung, pasti hanya bermodalkan sandal untuk jalan kaki barang beberapa blok dari rumah. Tapi sekarang, pernah terperhatikan oleh saya, seorang anak yang dimintai ayahnya memotokopi yang hanya 5 blok dari rumahnya saja harus menunggangi sepeda motor. Jika dulu saya berjalan-jalan kaki dengan satu atau dua orang teman, maka saya akan sangat senang berjalan sambil mengobrol dan memperhatikan situasi saat itu, walaupun terkadang usil; nimpuk anjing tetangga, berpura-pura memanggil pemiliki rumah lalu kabur, dll. Namun itu semua sangat menyenangkan, tertawa terbahak-bahak, dan emosi pun terbagi. Tapi sekarang, aku melihat 3 orang anak-anak dengan masing-masing menggenggam handphonenya masing-masing, berjalan sambil tersenyum sendirian. Mereka memang terlihat bersama, tetapi apa gunanya kebersamaan itu jika perhatian mereka hanya tertuju pada dunia handphonenya. Entah apa yang mereka senyum-senyumi di dalam gadget itu. Tidak selesai saya menggerutu pada 3 anak itu, di seberang jalan saya melihat 3 anak lagi yang berboncengan menggunakan sepeda motor matic. Bukan cuma berboncengan dan mengendarainya, tetapi mereka juga sambil becanda-canda dan ugal-ugalan.

Tanpa disadari, dada saya sesak dan seketika mengambil nafas panjang (heuh...). Saya tidak melihat kebahagiaan terpancar di mata anak-anak sekarang. Sejauh mata memandang di tengah hiruk pikuk kota bekasi, sangat jarang saya temui anak-anak yang memainkan permainan musimannya, semisal kelereng, gasing, panggal, tamiya, atau sejenisnya. Mereka terlalu larut dan terbuai dengan teknologi.

Sebenarnya banyak yang dapat kita pelajari saat kita meluangkan waktu memerhatikan lingkungan sekitar kita, seperti yang saya lakukan saat ini. Banyak sekali kata-kata orang, sikap orang, gerak-gerik dan bahasa isyarat yang dapat kita perhatikan saat kita memperhatikan lingkungan sekitar. Tidak hanya itu, terkadang aku senang memperhatikan seekor kucing garong yang mulanya sedang tidur-tiduran di atas sebuah bangku pos kamling, tiba-tiba begitu lewat kucing betina di depannya, dia langsung bangun dan membuntutinya dari belakang; cuma bisa senyum. Atau saat satu, dua, atau tiga helai rumput di atas sebuah tanah tandus tampak, saya hanya bisa memperhatikannya perlahan-lahan mati terinjak-injak dengan aktivitas manusia. Atau keadaan cuaca saat itu, melihat gerak-gerik awan, sambil sesekali dihiasi beberapa ekor burung beterbangan. Segumpalan dua gumpalan yang tak berbentuk sesekali menyatu membetuk seekor kepala kuda, wajah seseorang, dan suatu benda. Alangkah tentramnya jika kita sempati waktu kita seperti itu, ketimbang selalu memegalkan jari-jemari kita menari-nari di atas gadget, sambil terkadang mengabaikan sautan-sautan orang-orang di sekitar.

Banyak yang dapat kita pelajari dari gejala-gejala di sekitar, terutama gejala sosial. Semakin kita terbuai dengan gadget atau teknologi apapun, semakin hilang lah penjelasan bahwa manusia sebagai makhluk sosial pada pelajaran PKn dari hari ke hari. Mungkin kelak, anak cucu kita hanya akan dipelajari tentang manusia sebagai makhluk individu saja, semua bisa tertangani sendiri dengan bantuan teknologi. Sesungguhnya bukan permasalah suatu pekerjaan bisa dikerjakan sendiri atau tidak, tetapi ini mengenai naluri seorang manusia meskipun dia selalu bisa mengatasinya sendiri dia ingin ada seseorang yang mendampinginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BLENDED LEARNING?!

Kembalian

Belajar dari COVID-19 di Penghujung 2020